Showing posts with label Politik. Show all posts

Caleg PNA: Demokrasi di Aceh Utara Tidak Sehat

Aceh Utara - Seorang calon legislator  dari Partai Nasional Aceh (PNA) Aceh Utara, Anwar A Yusuf atau lebih dikenal dengan Keuchik Wan, warga Pante Breuh Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Mengatakan Demokrasi di Aceh tidak Sehat. Senin, 15 Juli 2013.

Menurutnya, masih banyak interpensi yang dilakukan oleh oknum-oknum yang berasal dari Partai Politik tertentu. Sehingga masyarakat bukan lagi memilih atas kehendak hati nuraninya sendiri, tapi telah memilih karena paksaan.

Keuchik Wan menambahkan, selain itu. Bentuk-bentuk tidak sehatnya berjalan demokrasi di Aceh, antara lain. Masih banyaknya perusakan spanduk terhadap calon-calon Legislatif.

“Apakah di Aceh hanya berlaku satu Partai Politik saja,” ujar Keuchik Wan.

Seperti halnya yang telah terjadi terhadap dirinya, sebanyak tiga buah spanduk milik dirinya telah dirusak oleh orang yang tidak dikenal. Selain itu, saat ini dirinya juga tidak luput dari bergai aksi teror.

Keuchik Wan menyebutkan, dirinya tidak pernah mencari musuh dengan siapa pun. Ia mendaftarkan dirinya untuk maju sebagai Caleg DPRK Aceh Utara pun bukan untuk bertarung dengan Partai Politik lain. “Saya bukan bertujuan untuk mencari musuh,” ujarnya.


Sumber:"Acehtraffic.com"

Pemberitaan Politik Aceh Jangan Dibuat Panas

Lhokseumawe - Penasehat Menteri Pertahanan RI, Adnan Ganto meminta kepada seluruh media untuk jangan terlalu panas dalam memberitakan situasi politik yang sedang memanas di Aceh, terutama dalam pemberitaan kontroversi bendera dan lambang Aceh.

“Cobalah para media memberitakan yang bagus tentang Aceh. Jangan membuat berita yang memanas tentang politik di Aceh. Sebab, persoalan seperti itu dapat membuat investor asing khawatir masuk ke Aceh,” ucap Adnan Ganto usai menghadiri Konferensi Internasional ke-4 International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), di gedung ACC Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Minggu (9/06/2013).

Pernyataan yang serupa juga disampaikan Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Prof. Syamsul Rizal, M. Eng. Dalam konferensi pers, iya mengatakan bahwa setiap kali ada pemberitaan mengenai politik Aceh, maka tak jarang media asing juga ikut mengutip berita-berita tersebut. 

“Aceh dan Jakarta sudah bebas dari abu-abu. Oleh karena itu diharapkan kepada media akan memberitakan tentang Aceh yang baik. Beritakanlah Aceh yang sifatnya membangun, agar Investor tidak takut akan datang ke Aceh. Media juga harus memberitakan bahwa Aceh ini benar-benar aman,” pinta Syamsul Rizal.

Konferensi ICAIOS dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Konferensi tersebut dihadiri Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam) Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto yang diwakili Irjen Pol Bambang Suparno, Deputi V Bidang Keamanan pada Kemenko Polhukam. Suparno yang juga mantan Wakapolda Aceh ini membacakan sambutan keynote speaker Menko Polhukam.

Kemudian Penasehat Menteri Pertahanan RI, Adnan Ganto sebagai invited speaker. Selain itu, Rektor Unimal Apridar, Rektor Unsyiah Prof Syamsul Rizal, pejabat mewakili Rektor IAIN Ar-Raniry, Danrem-011/Lilawangsa Kol Inf Hipdizah, Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib dan unsur Mupida lainnya.

Sumber:"Theglobejournal.com"

Ingin NasDem Menang Pemilu, Surya Paloh Minta Restu pada Ulama Aceh

Jakarta - Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh bersilaturahmi dengan puluhan ulama dan tokoh agama di Aceh untuk meminta doa restu agar Partai NasDem mampu memenangkan Pemilu 2014 hingga dapat mempercepat pembangunan di Aceh.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Asrama Haji Aceh, di Jalan Tengku Nyak Arief Banda Aceh, Kamis (4/7), Surya meyakinkan bahwa dirinya bukan bermaksud untuk meminta dukungan para ulama maupun tokoh agama terhadap Partai NasDem.
"Ini bukan untuk meminta dukungan. Tapi untuk meminta restu dan doa. Tidak ada salahnya meminta doa kepada ulama, bahkan kepada penjahat pun tidak dilarang meminta doa," kata Surya dalam rilisnya, di Jakarta.
Sebagai putra Aceh, Surya berharap Aceh dapat mengalami percepatan pembangunan dan ekonomi. Syariat Islam tak membatasi sebuah daerah untuk mengalami kemajuan pembangunan dan ekonomi, seperti halnya Dubai dan Abu Dhabi yang mampu mencengangkan dunia.
Ia pun yakin partainya mampu mempercepat progres pembangunan Aceh jika menjadi pemenang dalam Pemilu 2014. Keyakinan NasDem mampu berbicara banyak dalam Pemilu Legislatif dikuatkan dengan potensi anggota, dimana persentase dengan jumlah penduduk menempati peringkat tertinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia.
Disinggung mengenai masih adanya perseteruan antarpartai hingga berimbas pada kekhawatiran masyarakat Aceh maupun tokoh agama, dikatakan Surya dapat diurai dengan kebijakan yang tegas serta keteladanan pemimpin.
Sementara itu, tokoh agama Kabupaten Pidie H Tarmizi Abbas mengharapkan Partai NasDem mampu membenahi masalah moral akhlak dan pendidikan di Aceh, bila nantinya menang dalam Pemilu 2014.
"Tidak akan jalan pendidikan kalau tidak didobrak kekuatan legislatif. Ulama atau guru kalau tidak ada kurikulum juga susah. Kurikulum saat ini, yang menjadi guru di waktu dulu menyelesaikan dengan uang," kata Tarmizi yang juga menjabat Sekretaris Himpunan Ulama Dayah Aceh (Huda) Kabupaten Pidie.
Menanggapi hal itu, Ketum Partai NasDem berpendapat lemahnya sektor pendidikan dikarenakan pendidikan keluarga sebagai dasar, tidak berjalan dengan baik.
"Pembenahan pendidikan bukan pada permasalahan kuriulum. Selama ini hanya berkutat pada kurikulum. Yang harus dibenahi adalah sumber daya manusianya, pengajarnya," ucap Surya.
Penulis: ANT/TK
Sumber:"Beritasatu.com"

Wakil Ketua MPR: Bendera Aceh Jangan Diubah

LHOKSEUMAWE - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Provinsi Aceh, Ahmad Farhan Hamid,  menyatakan, bendera yang didesain dan diciptakan Tgk Hasan Tiro jangan pernah diubah.

Sebelumnya,  bendera itu pernah digunakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan kini diusung menjadi bendera Aceh sesuai dengan Qanun Aceh Nomor 3 tahun 20013 tentang Bendera dan Lambang Provinsi Aceh.

Menurut dia, sebaiknya semua pihak jangan mengambil alternatif dulu terhadap bendera Aceh, termasuk ingin mengubahnya. “Bendera itu kan sesuatu penciptaan sangat sakral, ide untuk melahirkan bendera itu bukanlah hal yang mudah,”ucap Ahmad Farhan Hamid yang juga Wakil Ketua MPR-RI, kepada Rakyat Aceh (Grup JPNN), kemarin.

Dikatakan, bendera GAM diusulkan menjadi bendera Aceh, mempunyai sejarah tersendiri dan sudah terekam di monumen peradaban dunia. “Kalau kita ingin mengubah bendera itu, saya ingin tanya siapa yang memberikan mandat untuk mengubah bendera tersebut?" tanyanya.

Menurutnya, saat ini ada benturan politik dengan Jakarta sehingga menjadi polemik. “Kalau saya pikir marilah bendera itu disimpan dulu, mungkin ada saatnya nanti bendera itu dipakai ketika kondisi nasional sudah berubah. Dan hubungan politik Aceh dengan Jakarta sudah saling memahami dengan kuat,” cetus Ahmad Farhan Hamid.

Dia mengatakan, penggunaan bendera dan lambang Aceh itu sebenarnya kewenangan dari Pemerintah Aceh sendiri.

Selain itu, sambung dia, semua pihak pasti tidak ingin mengotori tangannya untuk mengubah warisan yang ditinggalkan oleh Tgk Hasan Tiro. “Secara pribadi saya merasa gemetar tangan saya kalau ikut mengubah hal-hal yang diwariskan oleh orang-orang besar Aceh,”ucapnya.  

Tapi, katanya, yanng penting saat ini adalah tidak boleh ada percik pemicu secara politik dan keamanan antara Aceh dengan Jakarta. Kemudian, harus memberikan penghormatan penuh terhadap warisan-warisan masa lalu.

Sementara saat ditanya Rakyat Aceh, jika pembahasan bendera nantinya berlarut-larut antara Aceh dengan Jakarta dan tidak ada jalan keluar, apa yang perlu dilakukan, Farhan Hamid, menyatakan, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.

"Persoalan bendera tidak akan menjadi krikil yang tajam antara hubungan Aceh dengan Jakarta,”ungkapnya lagi. 

Sumber:"JPNN"

42 Calon Anggota DPRD Aceh Tak Fasih Baca al-Quran


Banda Aceh - Puluhan calon yang akan mengisi 81 kursi dewan DPRD Aceh pada pemilu 2014 gagal dalam tes membaca al-Quran, salah satu syarat wajib untuk bersaing merebut posisi pemerintahan daerah Aceh.
Komisioner Komisi Pemilihan Umum Aceh, Akmal Abzal, mengatakan 42 dari 1.231 orang dari 12 partai politik gagal dalam tes itu.

"Cuma ada tiga partai politik yang semua anggotanya lulus 100 persen dalam tes membaca al-Quran," katanya kepada Jakarta Globe Rabu kemarin, (1/5/13).

Akmal, yang juga ketua panitia ujian, bagaimanapun, menolak mengungkapkan nama politisi yang gagal atau nama partai politik mereka, atas alasan etika.

"Satu hal yang pasti, ada calon partai Islam yang tidak bisa membaca al-Quran. Ada juga calon dari partai lokal, "katanya.

Pemilihan umum 2014 akan diramaikan 15 partai yang berpartisipasi di Aceh, termasuk tiga partai lokal, Partai Damai Aceh (PDA), Partai Nasional Aceh (PNA) dan Partai Aceh (PA).

Sumber:"Cyber Sabili"

Aceh-Jakarta Bentuk Tim 14 Bahas Qanun Bendera


JAKARTA - Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh sepakat membentuk tim kecil beranggotakan 14 orang, masing-masing 7 orang dari Pemerintah Aceh dan 7 orang dari Pusat. Tim tersebut membahas butir-butir klarifikasi Qanun Lambang dan Bendera yang belum disepakati.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi mengatakan hal itu seusai pertemuan dengan Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah, Pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud, dan Asisten I Dr Iskandar A Gani, di Hotel Arya Duta, Jakarta, Rabu (1/5/2013).
"Kita telah sepakati ada tim kecil yang bekerja membahas substansi. Kita harapkan segera selesai," kata Mendagri menjawab Serambi (Tribunnews.com Network) sesaat sebelum meninggalkan arena pertemuan.
Mendagri melukiskan pertemuan berlangsung dengan sangat baik dan kondusif. Saat ditanya apakah Pemerintah Aceh sudah bersedia mengubah bentuk lambang dan benderanya, Mendagri mengatakan, pertemuan tersebut belum membahas hal itu.
"Tadi kita tidak bicara itu. Itu sudah masuk substansi. Nanti dibahas oleh tim kecil," kata Mendagri Gamawan Fauzi.
Mendagri dalam pertemuan tersebut didampingi Dirjen Otda Prof Djohermansyah Djohan dan Dirjen Kesbanglinmas Tanribali. Pertemuan diawali jamuan makan siang menu masakan Jepang.
Gubernur Zaini Abdullah mengatakan pertemuan dengan Mendagri berjalan sangat baik.
Mengenai pembentukan tim kecil, gubernur menyatakan sudah dicapai kesepakatan, dan tim tersebut mulai bertemu pekan depan di Batam.
"Sudah ada kemauan yang baik dari Pusat dan Aceh untuk segera menyelesaikan masalah  bendera dan lambang. Itu dulu yang terpenting," kata Gubernur Zaini.
Ia optimis, melalui serangkaian pertemuan, akan diperoleh solusi yang terbaik.
Optimisme serupa diutarakan Pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud. "Kita harap segera selesai," katanya yakin.
Selain bicara tentang Qanun Lambang dan Bendera, pertemuan dengan Mendagri itu juga membahas rencana pembangunan Aceh.
Menurut gubernur, Mendagri menyambut baik keinginan Pemerintah Aceh tersebut, antara lain soal pinjaman lunak pembangunan rumah sakit regional bertaraf internasional dari Jerman.
Rencananya ada lima rumah sakit regional yang dibangun, tiga di kawasan Aceh pesisir satu di Takengon dan satu lagi di Meulaboh.
"Kami juga bicarakan pencairan dana hibah, dan menteri setuju," kata  gubernur yang siang itu mengenakan kemeja merah marun.
Selain bertemu mendagri, Gubernur Zaini juga bertemu  mantan juru runding Hamid Awaluddin dan Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin. Sehari sebelumnya gubernur menemui Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar didampingi Ketua Forbes Nasir Djamil.

Sumber:"Tribunnews"

Partai Aceh: Peserta Pemilu Harus Santun Berpolitik


BANDA ACEH  — Partai Aceh menegaskan bahwa mereka akan mengawal kuota 30 persen unsur perempuan di parlemen yang diamanatkan undang-undang pemilihan umum. Partai ini mengajak peserta pemilihan untuk tidak terpancing suhu politik yang mulai memanas dan mengedepankan kesantunan politik.
Juru Bicara Bakal Calon Legislatof Partai Aceh, Cut Meutia, menyebutkan, partainya sangat menghargai dan mendukung terwujudnya kuota 30 persen perempuan di parlemen. “Ini yang kita cita-citakan dari dahulu,” kata Cut Meutia dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi acehkita.com, Selasa (30/4/2013) malam.
Cut Meutia menyebutkan, kuota 30 persen unsur perempuan di parlemen itu harus dihargai dan didukung karena perintah undang-undang. “Partai Aceh telah memenuhi tuntutan UU dengan mengikutsertakan 30 persen perempuan dalam pencalonan anggota legislatif di provinsi maupun kabupaten/kota,” sebutnya.
Pernyataan ini dikeluarkan menyikapi kasus teror yang menimpa bakal calon legislator perempuan di Aceh Besar dan Pidie. Seperti diketahui, bakal caleg perempuan dari Partai Nasional Aceh, Zuhra, diminta mengundurkan diri oleh seorang bekas kombatan Gerakan Aceh Merdeka. Bahkan, Zuhra diancam tembak jika tetap maju dalam bursa caleg PNA.
Mengenai dinamika politik yang mulai memanas menjelang Pemilihan Umum, Partai Aceh berharap agar seluruh partai politik peserta pemilu dan masyarakat Aceh untuk melakukan politik santun.
“Kami dari bacaleg perempuan Partai Aceh menyerukan kepada parpol peserta Pemilu dan masyarakat Aceh untuk tidak mudah terpancing dengan isu dan tindakan-tindakan pihak tertentu yang ingin menghancurkan perdamaian Aceh dengan cara memanfaatkan momentum Pemilu saat ini,”ujar Cut Meutia.

Sumber:"Acehkita.com"